
Pemkab Bolmut Perkuat Stabilitas Harga Pangan, Dorong Transformasi Pertanian dan Ketahanan Ekonomi Daerah
News Buroko – Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas harga pangan sebagai salah satu pilar utama pembangunan ekonomi daerah. Langkah ini disampaikan secara tegas dalam High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID)–Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) yang digelar pada Rabu, 30 Juli 2025 di Boroko, dan dihadiri oleh jajaran Pemkab Bolmut serta perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara.
Pertemuan tingkat tinggi tersebut menjadi momentum penting bagi Bolmut untuk merumuskan strategi pengendalian inflasi di tengah dinamika harga bahan pangan yang terus berubah. Dalam kesempatan itu, Bupati Bolmut Dr. Sirajudin Lasena menegaskan bahwa pengendalian inflasi bukan hanya sekedar agenda teknis pemerintah, tetapi merupakan bagian dari upaya besar untuk menjaga daya beli, kesejahteraan, dan kualitas hidup masyarakat.
Menurut Bupati Lasena, komoditas padi menjadi perhatian utama karena beras merupakan kebutuhan pokok bagi seluruh masyarakat, sekaligus menjadi tumpuan ekonomi ribuan petani lokal. Bolmut sendiri dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di wilayah utara Sulawesi, sehingga stabilitas harga beras memiliki efek domino yang signifikan terhadap kondisi sosial dan ekonomi daerah.
Dari data Pemkab Bolmut, produksi beras lokal mengalami peningkatan pada panen tahun 2025. Total 107 ton beras berhasil disalurkan kepada masyarakat dan stakeholders terkait sebagai hasil dari panen padi di lahan seluas 235 hektare. Peningkatan produksi ini menunjukkan progres positif dalam sektor pertanian Bolmut. Namun, di balik pencapaian tersebut, pemerintah menilai bahwa harga beras di pasaran masih belum sepenuhnya terjangkau oleh kelompok masyarakat berpendapatan rendah.
“Inflasi yang terkendali adalah kunci kesejahteraan karena langsung terkait dengan daya beli masyarakat. Jika harga pangan tidak stabil, maka akan berdampak pada seluruh roda ekonomi,” tegas Bupati Lasena dalam forum tersebut.
Ia menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak akan berjalan optimal tanpa kestabilan harga pangan. Stabilitas harga beras juga menjadi indikator penting dalam keberhasilan pemerintah menjaga ketahanan pangan serta memastikan pemerataan akses pangan di seluruh wilayah Bolmut, dari pesisir hingga daerah pegunungan.
Strategi Pengendalian Inflasi: Kolaborasi Pemkab dan Bank Indonesia
Dalam forum HLM TPID–TP2DD ini, Pemkab Bolmut bersama Bank Indonesia Sulawesi Utara menyusun sejumlah langkah strategis untuk meredam tekanan inflasi. Beberapa kebijakan yang mengemuka antara lain:
-
Operasi Pasar Terjadwal
Pemerintah akan menggelar operasi pasar secara rutin untuk memastikan harga beras, cabai, bawang, dan komoditas strategis lainnya tetap stabil. -
Distribusi Pangan Tepat Sasaran
Peningkatan efektivitas distribusi hasil panen lokal agar stok tersedia merata di seluruh kecamatan, terutama di wilayah yang rawan gejolak harga. -
Kerja Sama Antar Daerah (KAD)
Bolmut akan memperkuat kemitraan distribusi pangan dengan daerah lain di Sulawesi Utara maupun wilayah tetangga seperti Gorontalo, guna menjamin kontinuitas pasokan dan menghindari kelangkaan. -
Digitalisasi Sistem Ekonomi dan Perdagangan
Melalui kerja sama TP2DD, pemerintah akan mendorong transaksi non-tunai dan pemanfaatan platform digital untuk memudahkan pemantauan harga sekaligus memperbaiki efisiensi distribusi.
Program PATUA: Transformasi Pertanian Bolmut Menuju Era Digital
Dalam rangka memperkuat ketahanan pangan jangka panjang, Pemkab Bolmut juga mempersiapkan program PATUA (Petani Unggulan Sulut) sebagai inovasi baru yang diperkenalkan pada tahun 2025. Program ini diarahkan untuk:
-
mendorong modernisasi pertanian melalui pemanfaatan teknologi,
-
memperkenalkan sistem digital farming,
-
meningkatkan kompetensi petani lokal dalam hal produktivitas dan manajemen usaha tani,
-
serta memperkuat rantai pasok pangan daerah.
Melalui PATUA, pemerintah berharap generasi muda di Bolmut semakin terdorong untuk terjun ke sektor pertanian dengan pendekatan yang lebih modern, berbasis data, dan mampu bersaing di tingkat regional. Dengan demikian, Bolmut tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah produksi, tetapi juga kualitas, efisiensi, dan nilai tambah komoditas pangan yang dihasilkan.
Penguatan Sektor Pangan untuk Ketahanan Ekonomi Berkelanjutan
Bupati Lasena menegaskan bahwa ketahanan pangan bukan hanya isu pertanian, tetapi juga bagian dari stabilitas ekonomi makro daerah. Inflasi yang tidak terkendali berpotensi melemahkan konsumsi rumah tangga, memicu kenaikan biaya produksi, dan pada akhirnya menurunkan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, Pemkab Bolmut menempatkan sektor pangan sebagai fondasi pembangunan ekonomi jangka panjang. Semua kebijakan yang diambil pemerintah daerah selalu dikaitkan dengan bagaimana kebijakan tersebut mampu menjaga stabilitas harga, meningkatkan pendapatan petani, dan memperkuat kemandirian pangan lokal.
Di sisi lain, Bank Indonesia Sulut memberikan apresiasi atas langkah-langkah strategis Pemkab Bolmut dalam menjaga stabilitas harga pangan. BI menilai daerah ini memiliki potensi besar untuk menjadi model penguatan pangan berbasis kolaborasi pemerintah–petani–lembaga keuangan, terutama di kawasan perdesaan dan pesisir.
Harapan Masyarakat dan Tantangan ke Depan
Masyarakat Bolmut, khususnya petani dan pelaku usaha kecil, menyambut baik komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan. Namun demikian, beberapa tantangan tetap harus dihadapi, seperti:
-
fluktuasi harga hasil pertanian di tingkat nasional,
-
dampak cuaca ekstrim dan banjir pesisir,
-
keterbatasan infrastruktur irigasi di sejumlah kecamatan,
-
serta perlunya peningkatan kapasitas petani dalam teknologi pertanian modern.
Pemerintah menegaskan bahwa seluruh tantangan tersebut akan dihadapi melalui program kolaboratif dan intensifikasi pembangunan di sektor pertanian.


